CLICK HERE FOR THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES »

Selasa, 24 November 2009

HABIT=KARAKTER

Perbuatan yang menjadi habit lambat laun akan menjelma menjadi karakter
maka jadikanlah perbuatan baik sebagai habit
hingga ia menjelma menjadi karakter
Zakiah... kamu kebiasaan, deh, kalo ngomong ceplas ceplos aja. Lihat tuh siapa yang di ajak bicara... dia kan lebih tua dari kamu...". Mama kesal banget dengan kebiasaan Zakiah yang satu ini, kalau bicara suka ceplas ceplos, mulutnya yang gambreng kadang tak terkontrol asal cuap-cuap aja. Piring kotor di dapur dibiarkan menumpuk, lantai kotor dibiarkan saja tanpa ada inisiatif sendiri untuk nyapu apalagi ngepel, berpakaian seperti pria, bermain kelereng dengan teman pria selalu menang dan lain sebagainya.


Tapi itu kemarin, sebelum ia mengenal indahnya berkerudung, indahnya berbusana muslimah, dan bergaul dengan teman-teman akhwat di bimbelnya. Sekarang ia mulai menata dirinya dari mulai cara berbusana, cara berbicara dan sedikit banyak perubahan telah ia lakukan dengan kemauan sendiri para kakaknya hanya memotivasi dan senang dengan perubahannya yang sangat drastis. Untunglah ia sadar sebelum semuanya menjadi karakter.
Makanya jangan main-main dengan keburukan yang dibiasakan. la bisa menjadi karakter yang melekat dalam kehidupan kita, coba kita perhatikan hal berikut ini:
Seseorang yang biasa melupakan janji, tidak menepati janji, pada akhirnya akan menjadi habit. Dan orang tersebutjuga akan mungkin menanggap biasa melupakan janji Seseorang yang biasa ngegosip, akan getel mulutriya , bila seharian tidak ada yang digosipin Seseorang yang biasa berbohong, akan sulit menghilangkan habitnya itu, meskipun kerap kali kena batunya. Di kemudian hari, ia boleh jadi terjebak melakukan-kebohongan yang semakin besar bahkan kebohongan public Seseorang yang biasa mencuri dan tidak ada upaya menghentikannya, maka bisa jadi ia akan terus menerus melakukan pencurian bahkan mungkin kualitas dan kuantitas pencuriannya meningkat Seseorang yang terbiasa merokok akan susah menghentikan kebiasaan merokok meskipun larangan pemerintah tetang bahaya merokok tertera di bungkus rokok. Dan lain sebagainya Semua kebiasaan jelek tersebut hanya sebagian kecil perbuatan buruk yang kemudian menjelma menjadi karakter. Bola sudaha menjelma menjadi karakter maka akan sulit mengubahnya. Bahkan, bila sudah menjelma menjadi karakter, fisik sesseorang pun akan mendukungnya.
Hal sederhana berikut bisa dijadikan contoh:
Pada awalnya, bila manusia berbohong, dadanya (jantung) menjadi berdebar keras dan ia diliputi oleh rasa takut yang berlebihan. Keringat akan mudah mengucur, apalagi bila ia rasakan bahwa kebohongannnya akan ketahuan. Tapi, bila kemudian berbohong telah menjadi habitnya, raut muka pun akan menampakkan wajah manusia tak berdosa, hati merasa aman, dan kondisi detak jantung pun menjadi biasa saja.
Pada awalnya, pencurian kecil-kecilan selalu dilakukan dengan penuh ketakutan dan kekhawatiran. Tapi bila kemudian ia "selamat" dan terpancing untuk terus menerus melakukan pencurian tambah lagi kesempatan selalu ada, boleh jadi tangannya akan terbiasa, tidak ada lagi rasa takut dan gundah dalam hati, dan langkah kaki pun begitu ringan untuk diajak bekerja sama.
Penipuan yang dilakukan seseorang yang pandai bersilat lidah, bila ia sudah merasa nyaman dengan habitnya itu maka akan menjadi karakter dan akan ada sederetan orang yang ia tipu tapi ia tetap tenang-tenang saja bah dengan penampilan yang menipu juga, pepatah bilang :" srigala berbulu domba".
Seseorang yang terbiasa tidur lagi setelah shubuh, atau dalam istilah kami di pondok dulu "adding". Maka akan sulit baginya bila hari di laluinya tanpa tidur pagi. Atau seseorang yang terbiasa tidur siang, maka sekujur badannya akan terasa lemas bila suatu hari ia lewati tanpa tidur siang.
Pada contoh kasus di atas, dukungan fisik dirasakan badan kita dalam bentuk "ketenangan" dalam melakukan habit, dosa dan maksiat. Bila sudah terjadi seperti ini, sang waktulah yang akan menentukan, apakah ia masih diberi­Nya kesempatan untuk berubah atau ajal yang keburu menjemput. Karena bahayanya perbuatan buruk yang berubah menjadi kebiasaan ini, maka menjadi kaharusan bagi kita membiasakan diri, hati, dan pikiran kita untuk melakukan hal-hal yang baik. Supaya kebaikan menjadi karakter dan badan kita begitu ringan untuk diajak berbuat baik, dan supaya badan menjadi berat bila diajak berbuat maksiat.
Coba kita tengok ahli qiyamullail, mereka begitu ringan dan khusyu ibadah di keheningan malam di saat orang­ orang tertidur lelap, bahkan penyesalan yang mendalam akan mereka rasakan bila satu malam terlewati tanpa qiyamullail.
Jangan takut saudara, sebagian ahli mengatakan bahwa mengubah pola hidup yang buruk itu bisa dilakukan asal ada keinginan yang kuat dan selalu berdo\'a agar Allah menghendaki perubahan yang sempurna. Awalnya memang berat, tapi kemudian bila kita berhasil melalui satu dua hari pertama, hari-hari selanjutnya menjadi hari yang mudah. Bahkan Allah juga menyediakan hidayah (petunjuk) dan taufik (bimbingan) untuk kita manusia­manusia yang salah untuk bisa kembali ke jalan-Nya. Sisakan saja waktu kita untuk menerima kehadiran-Nya.
”Hidup ini hanya sekali, hiduplah yang berarti, Berbuat baik jangan sekali, berbuat jahat sekali jangan”.
Selamat mengubah diri menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan ahli kebaikan, semoga Allah Yang Maha Membimbing selalu memberikan bimbingan-Nya kepada kita sehingga kita selamat dunia dan akhirat.

SUMBER WWW.WISATAHATI.COM

Read More......

Banyak Manusia Yang Lupa

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah,
maka Allah membuat mereka lupa diri
Dan mereka temasuk orang-orang yang fasiq"
(QS. Al-Hasyr [59]: 19)


Tawaran Allah sudah sangat jelas yaitu barang siapa yang mengingat-Nya maka Allah akan mengingatnya. Bila kita mengingat Allah di kala senang maka Ia akan mengingat kita di kala kesedihan merundung, bila kita mengingat-Nya di kala lapang maka Ia akan mengingat kita di kala kesempitan menghimpit, bila kita mengingat-Nya di kala kaya maka Ia akan mengingat kita di kala miskin, bila kita mengingat-Nya di kala jaya maka kita akan di ingat olenya dikala bangkrut dan terpuruk, bila kita mengingatnya di kala malam maka Ia akan mengingat kita di kala siang dan seterusnya. Saudara pembaca kajian wisatahati….Banyak manusia yang lupa, bahwa ketika dia bermasalah, mempunyai kesulitan, atau mempunyai keinginan, tidak ada yang bisa menolong kecuali Allah. Akibatnya, banyak yang nungguin mentok, artinya ia cari jalan dan solusi sekenanya dan sekuat tenaga tanpa melibatkan Allah, ketika urusan ke kanan mentok ke kiri mentok barulah dia mencari Allah. Bolehlah saya sebut beberapa keadaan:


Ada anak muda, yang mencari pekerjaan. Bertahun-tahun dia mencari pekerjaan, tapi tak kunjung datang pekerjaan yang dia maksud. Setelah sekian tahun, barulah dia menyadari, bahwa ikhtiarnya itu belum dibarengi dengan kekuatan Allah. Akhirnya barulah kemudian dia mencari Allah.
Ada orang yang terhimpit beban kehidupan berupa hutang. Lama dia mencari solusi untuk hutangnya. Tapi apa yang terjadi, semakin dia mencari solusi buat hutangnya, tuh hutang malah bertambah tambah banyaknya.
Ada orang yang merasa terhina, miskin, dan menderita. Lalu dia mencari jalan-jalan untuk menjadi mulia, kaya dan senang. Tapi dia tidak mendatangi Allah, dan tidak mencari jalan-jalan tersebut di sisi Allah. Melainkan ia cari dengan nafsu dan tawaran syetan dan dunia yang menggoda. Lalu apa yang ia dapatkan? Yang ia dapatkan malah bertambah-tambah hinanya, bertambah-tambah miskinnya, dan bertambah-tambah penderitaannya. Setelah itu semua terjadi,
Ada pedagang yang selalu rugi, ia ingin dagangannya laris. Lalu ia pergi ke orang pintar mencari azimat penglaris lalu ketika tidak laris-laris bakan selalu rugi barulah ia datang ke Allah
Saudara… memang tidak ada salahnya sih, dan memang belum telambat sih menghadap Allah dan mencari ridho-Nya setelah masalah terhidang dan mentok, Cuma kenapa tidak dari dulu saja kita ingat Allah kita libatkan Allah dalam segala urusan kita?


Selamat mengubah diri menjadi hamba yang senantiasa mengingat Allah, robbul jalaal wal ikrom Yang mampu menguba kehidupan kita semudah mengubah siang menjadi malam dan malam menjadi siang.

sumber www.wisatahati.com

Read More......

Diuber-uber Dosa

“Dan apa-apa yang menimpa kamu dari sebuah bencana,
maka disebabkan ulah tangan kamu,
sedangkan Dia banyak mema’afkan kesalahan
Dan kamu tidak dapat menghindarkan diri dari segala akibat.
Dan bagi kamu tidak ada pelindung dan penolong selain Allah”
(QS. Asy-Syuura [42]:30-31)

Tidak akan ada asap bila tidak ada api, tidak akan ada bau busuk bila tidak menyimpan bangkai. Manusia tak akan bisa lari dari segala perbuatannya; perbuatan baik akan berbuah kebaikan, perbuatan buruk akan ditampakkan keburukannya. Ibarat emas yang digadaikan, perbuatan manusia ‘digantung’ dengan segala lelakunya;


“Setiap diri tergadai dengan apa yang diperbuatnya.”
(QS. Al Muddatstsir [74]: 38)

Allah sudah memberitahukan kepada kita melalui ayat-ayat-Nya bahwa perbuatan buruk akan mengundang hadirnya azab Allah dan menyebabkan hilangnya rahmat. Sering kita dengar kisah perjalanan dan potret ummat sebelum kita, yang menemui kebinasaan dan kehancuran; kaum Tsamud, kaum ‘Aad pada zaman Nabi Hud, al Mu’tafikaat –ummat Nabi Luth, Kaum Madyan pada zaman Nabi Syuaib; atau Fir’aun, Qarun dan Haman. Mereka semua diberitakan Tuhan mempunyai kecendrungan sombong, takabbur, aniaya, sewenang-wenang, menumpuk-numpuk harta, individualis, hedonis dan materialis, suka kolusi, mudah korupsi, mengurangi timbangan, dan begitu gampangnya membantu kemaksiatan dan malas berbuat kebaikan.

“Mereka akan diikuti dengan kejahatan yang mereka lakukan.
Dan orang-orang zalim di antara mereka akan ditimpa balasan
terhadap apa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak dapat melepaskan diri.”
(QS. Az-Zumar [39]: 51)

Ibarat menggoda anjing, maka kita akan dikejar tiada henti, hingga kita terhenti berdiam diri, terkejar atau sang anjing berhenti mengejar. Begitu pula perbuatan dosa. Ia akan selalu mengejar kemanapun kita berlari. Pengejarannya bisa berupa hilangnya keberkahan, berupa kegelisahan, musibah beruntun, hutang tak kunjung terbayar, piutang tak kunjung tertagih, penyakit tak kunjung sembuh malah semakin parah, tertipu teman sendiri, jodoh tak kunjung hadir, usaha tak kunjung untung malah selalu buntung dan lain sebagainya. Masalah demi masalah terus mengejar hingga kemudian kematian mengistirahatkan sebentar dari ‘uberan’ dosa. Sebelum segala sesuatunya berlanjut kembali!

Pengejaran akibat buruk perbuatan buruk bisa dihentikan –bahkan di dunia ini- dengan mengikrarkan pertaubatan, permohonan maaf dan ampunan kepada-Nya, penghentian langkah kemaksiatan dan perilaku buruk dan berjalan kebaikan. Insya Allah, kebaikan yang kita inginkan akan terwujud. Perlulah kiranya kita belajar dari kesalahan Adam dan Hawa, setelah mereka berdua menyadari kesalahan dan kekeliruan mereka, mereka bermunajat sebagai bentuk penyesalan yang diutarakan lewat kekuatan doa yang indah.

“Duhai Tuhan kami… sungguh kami telah menzalimi diri kami sendiri,
membuat susah diri kami sendir, andaikan Engkau tidak mengampuni kami,
sekiranya Engkau tidak memberikan rahmat-Mu kepada kami,
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi
(QS.Al-A’raaf [7]: 23)



Selamat merubah diri menjadi pribadi-pribadi yang tangguh secara iman dan moral serta terbebas dari uberan kesalahan dan dosa-dosa hingga hidup penuh dengan keberkahan dan keselamatan baik di dunia maupun akhirat.

sumber www.wisatahati.com

Read More......

Konsep keberkahan

“Waduh pak haji…
hari gene mah nyari yang haram saja susah
apalagi yang halal…
Udah ente urusin diri ente aja dulu
ngapain repot-repot ngurusin ane…"


Tersebutlah ada seorang preman yang bernama Danu, ia adalah preman pasar yang selalu minta jatah keamanan kepada para pedagang, ia tidak mau tahu apakah pedagang tersebut sudah dapat “penglaris” atau belum, ia hanya tahu jatahnya seribu rupiah setiap lapak. Suatu hari ia ditegur oleh H. Ma’mun, seorang ustadz yang juga pedagang sayuran di pasar anyar, pasar tradisional di kota Benteng. Umurnya separuh baya, lembut tutur katanya, berwibawa hingga Danupun segan terhadapnya. Di sela-sela kesibukannya berdagang ia sering mengajak kawan-kawannya dan siapapun yang ia kenal di pasar tersebut untuk kembali kepada Allah, menegur mereka yang kelihatan curang dalam menimbang dan mengajak mereka untuk selalu shalat di masjid pasar.


Tak luput Danu pun diajaknya agar bertaubat dari preman menjadi orang biasa yang mencari nafkah secara wajar, halal dan diridhoi Allah. Dengan enteng ia menjawab: “Waduh pak haji… hari gene mah nyari yang haram saja susah, apalagi yang halal.. udeh ente urusin diri ente aja dulu gapain repot-repot ngurusin ane…”.

Pak haji memaparkan kepadanya sebuah ayat Qur’an surat An Nisaa’ ayat 29:

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta antara kamu dengan cara yang batil,
kecuali perniagaan yang terjadi dengan suka sama suka diantara kamu,
dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”.

Setelah itu pak Haji yang berwibawa itu menawarkan sesuatu kepada Danu,” ente mau cari yang halal, nih ana modalin dagang sayuran, asal ente tahu ya… yang ngasih rizki itu bukan siapa-siapa tapi Allah, kenapa tidak berharap akan kebesaran-Nya, kenapa tidak meminta kepada-Nya?”. Setelah pendekatan dakwah yang sangat menyentuh hati, dan solusi alternatife dari Pak Haji, akhirnya Danu menangis dan mau mencari uang dengan cara yang halal agar keberkahan Allah selalu menyertai hidupnya. Karena selama ini yang ia rasaka hanyalah kenikmatan sesaat tapi hati tidak pernah tenang, pikiran selalu kusut dan rumah tangganya berantakan.

Saudara pembaca kajian wisatahati, Kapan uang tidak mendatangkan ketenangan…? Manakala ia kehilangan keberkahannya. Kapan jabatan dan kekuasaaan tidak menadapatangkan ketenangan da kebahagiaan…? Manakala ia kehilangan keberkahannya. Kapan pekerjaan dan usaha justru menjadikan kita manusia-manusia yang kehilangan kebahagiaan untuk diri kita dan keluarga kita sendiri…? Ini juga sangat mungkin terjadi sebab kita kehilnagn apa yang dinamakan keberkahan. Terus kita pun harus paham, bahwa biji yang tumbuh di atas benih yang haram tidak akan berguna sama sekali di sisi Allah. Malah ia akan membawa kehancuran bagi kehidupan kita sendiri.

Ibnul Qoyyim Al-Jauzi, Ulama besar abad VII H memaparkan bahwa harta itu ada empat macam, yang pertama, harta yang didapatkan dari ketaatan kepada Allah lalu dinafkahkan pada hak Allah, itulah sebaik-baik harta. Kedua, harta yang didapatkan dari maksiat kepada Allah dan dinafkahkan kepada hal yang mengandung maksiat pula, maka itulah seburuk-buruk harta. Ketiga, harta yang didapatkan dengan meyakiti sesame muslim dan dikeluarkan juga untuk menyakiti sesame muslim, maka dia juga aklan mengalami hal yuang serupa. Empat, harta yang didapatkan dari hal yang mubah, tetapi dinafkahkan kepada yang mubah pula, maka harta itu bukan miliknya,bukan pula menjadi beban baginya, dan itulah asal mula harta.

Nampaknya, konsep keberkahan, yang terkait dengan rasa syukur, serta menghindari sesuatu yang haram dan syubhat menjadi sangat penting kita pahami, dan sangat penting untuk kita ingat kembali. Supaya kebahagiaan tidak sebentar berganti duka lara, suupaya tawa tidak sebentar menjadi tangisan pilu. Sebab dua hal, yaitu merihnya dengan cara yang tidak benar (haram), atau memanfaatkannya dengan jalan yang tidak benar.


Selamat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan selalu mengutamakan ridho Allah dalam segala hal terutama dalam mengais rizki.

sumber www.wisatahati.com

Read More......

Ketika Sholat Terabaikan

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Dan sesunguhnya yang demikian itu (sangatlah) berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyu’
(QS. Al Baqarah [2]: 45)

Saudara pembaca kajian wisatahati, saat ini kita sedang berada di suatu bulan, yaitu bulan rajab di mana 14 abad yang lalu Rasulullah SAW mendapat perintah shalat lima waktu dari Allah SWT pada malam mi’roj 27 rajab sepuluh tahun tiga bulan setelah kenabian beliau. Saya tidak akan membahas kisah monumental tersebut di sini tapi lebih kepada akibat yang akan Allah SWT ganjarkan bagi orang-orang yang melalaikan dan meninggalkan shalat sebagai sebuah bahan perenungan bagi kita.


Berdasarkan pengalaman kami membuka layanan klinik konseling spiritual di berbagai daerah di Indonesia untuk menyapa saudara-saudara kita yang sedang bermasalah dan menghajatkan sesuatu tapi tak kunjung terjawab. Kami mengajak mereka untuk mendatangi Allah SWT terlebih dahulu sebelum jauh-jauh ikhtiar mencari solusi, kami mengajak saudara-saudara kita untuk menemukan penyebab kesulitan diri sebelum beranjak mencari solusi. Di antara penyebab kesulitan diri adalah ditinggalkannya shalat atau mungkin hanya lalai saja, atau mungkin shalat tapi kurang bergizi shalatnya. Terkdang kita kurang sadar bahwa shalat adalah media kita berdialog dengan Tuhan, shalat adalah salah satu cara kita selaku makhluk bersyukur kepada Allah robbul jalaal.
Seberapa banyakkah orang Islam yang tidak shalat? Coba kita tengok rumah-rumah keluarga muslim, kadang ada saja yang meninggalkan shalat. Suami shalat, istri shalat, anak tidak shalat. Suami shalat, anak shalat, eh… sang istri yang tidak shalat. Istri tekun shalat eh malah suami yang shalatanya belang belentong. Katanya mau menjadi keluarga sakinah, mawaddah warrahmah. Atau dalam lingkup perusahaan, Direksinya shalat, managernya shalat stafnya shalat eh.. karyawannya enggak sempat shalat. Karyawannya shalat, stafnya shalat eh para pemegang jabatan yang tidak sempat shalat dan seterusnya.
Wajar kemudian bila Rasulullah SAW kala hendak menghembuskan napasnya yang terakhir beliau berpesan dan menekankan tentang pentingnya menjaga shalat terhadap bukan saja kita, tapi juga terhadap orang-orang yang menajdi tanggungjawab kita, “alaikum bish sholah wama malakat aymanukum, kewajiban atasmu shalat, dan orang-orang yang menjadi tanggungjawabmu”. Begitu pentingnya shalat hingga beliau berpesan demikian, karena memang shalat adalah tiang agama, shalat adalah amal yang pertama kali dihisab pada hari penghitungan, bila shalat kita benar maka benarlah semua amal kita namun bila shalat kita rusak maka rusak pulalah seluruh amal kita. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa perbedaan antara muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat.
Saudara, ketika kita memliki penyakit, sebelum berikhtiar jauh-jauh mencari kesembuhan, kita cek dulu shalat kita. Allah memberikan nikmat kepada kita berupa badan sehat, tapi kita enggan berterimakasih kepada-Nya diantaranya melalui shalat. Kita menghendaki badan bagus, badan sehat tapi kalau tidak shalat, sama saja kita telah mengundang penyakit datang. Atau boleh jadi shalat sih sudah dilakukan, tapi kurang serius, lalai, kurang bermutu. Shalat tidak tertegakkan dengan baik Cuma sekedar menggugurkan kewajiban (barooahminadz dzimmah) saja. Maka ketika shalat tersebut rusak, rusak pulalah fungsi badan kita. Ketika shalat sudah mulai tertata rapi, sudah mulai diperbaiki, sudah mulai bermutu maka badanpun akan terjaga dan bermutu. Ketika memiliki hutang, ketika rumah tangga tak tentram, rebut melulu, kurang harmonis, ketika kesulitan membelenggu kehidupan, ketika kesedihan menjadi pakain sehari-hari, sebelum jauh-jauh mencari solusi mari kita cek dulu shalat kita…
Saudaraku… Mencari dunia itu gampang, mencari uang itu mudah, carilah dulu Pemiliknya, carilah dulu Pemberinya, Menghilangkan kesusahan itu gampang, menghilangkan penderitaan itu mudah, dekatilah dulu Allah Yang Maha Berkehendak, Allah yang punya pertolongan, Allah yang punya jalan rizki, Allah yang memberikan masalah, kepada-Nya pula kita mesti minta solusi.

Selamat memperbaiki diri menjadi ahli shalat yang khusu’, manjadi ahli shodaqoh yang ikhlas, menjadi pejuang yang gigih. Hingga masa depan adalah milik kita bersama.

sumber wwww.wisatahati.com

Read More......

Minggu, 23 November 2008

Ketika Hati Merasa Sempit

Pernahkah kawan merasa sempit dalam hidup ini. Sebagai makhluk yang normal sebagai manusia pasti pernah. Yaitu merasa serba kekurangan rezeki, melihat orang lain lebih sukses, kaya dan maju.


Merasa sudah bekerja demikian keras tetapi belum ada hasil.Sehingga merasa tidak berarti dan tidak berdaya. Akhirnya menjadi rendah diri, malas dan menyerah. Ini berbahaya jika sudah menyerang kita. Sebenarnya ada tips sederhana ketika perasaan itu datang, dan saya telah mencobanya dan cukup efektif membangkitkan semangat kembali. Caranya sederhana, yaitu catat semua hal yang telah diraih selama hidup, catat nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Memang nikmat Allah amat banyak, niscaya tidak akan sanggup menghitungnya. Tetapi catat saja yang diingat, bahkan yang sederhana sekalipun. Misalnya:

1.Alhamdulillah, saya bisa sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi.
2.Alhamdulillah, saya bisa bangun pagi.
3.Alhamdulillah, saya punya sepeda motor.
4.Alhamdulillah, saya punya pekerjaan tetap.
5.Alhamdulillah, saya bisa makan setiap hari.
6.Alhamdulillah, saya bisa menyapa dan tersenyum kepada orang lain.
7.Alhamdulillah, saya bisa menikmati opor ayam ketika lebaran.
8.Alhamdulillah, saya bisa melihat, mendengar dan merasa.
9.Alhamdulillah, saya tinggal di negara yang aman dan bersahabat.
10.Alhamdulillah, saya bisa tidur dengan nyenyak.
11.Alhamdulillah, saya memiliki istri yang sabar.
12.Alhamdulillah, saya bisa menulis dan membaca.
13.Alhamdulillah, saya bisa merasakan hangatnya mentari pagi.
14.Alhamdulillah, saya bisa melihat keindahan alam ciptaan-Nya.
15.Alhamdulillah, saya bisa berjalan dan berlari
16.Dll.

Banyak sekali bukan kalau mau diteruskan? Kemudian tips berikutnya adalah lihat kehidupan orang-orang yang secara ekonomi di bawah kita. Bukan untuk maksud berbangga diri, tetapi supaya bersyukur. Kemudian, pergi ke kuburan dan mengingat kematian, ingat akan hari pembalasan. Insya Allah hilang semua rasa sempit yang ada di dada. Lebih mantap lagi baca surat Ar-rahmaan ayat 1-78 di Al-qur'an. Maka, nikmat Tuhan yang mana lagi kamu dustakan?

Semoga bermanfaat untuk instrospeksi diri penulis dan siapa saja yang membacanya.

Read More......

Keajaiban Memberi

Apa perbedaan cara berpikir antara orang bahagia dengan orang yang menderita? Perbedaannya sederhana saja, orang bahagia berpikir bagaimana hari ini saya bisa memberi dan berbagi terhadap sesama.


Tetapi orang menderita berpikir apa yang bisa saya terima hari ini. Sederhana bukan? Orang berbahagia tidak pernah berpikir untuk meminta imbalan kepada orang lain, karena Allah yang akan memberinya balasan. Tetapi orang menderita selalu mengharap imbalan kepada orang lain atas jasa-jasa yang ia lakukan. Dan tidak ada dalam sejarah bahwa orang-orang yang suka memberi dan berbagi ini menjadi jatuh miskin. Justru mereka menjadi orang yang kaya raya karena memberi, memberi dan memberi.

Anda memiliki kemampuan apapun walaupun kecil, beri dan bagi kepada orang lain. Niscaya kemampuan Anda akan meningkat. Anda memiliki harta walaupun sedikit, bagi dan beri kepada yang membutuhkan, niscaya harta Anda meningkat. Anda memiliki tenaga, waktu dan kesehatan maka maksimalkan untuk membantu orang lain, maka kita semakin kaya, kaya teman, kaya pengalaman bahkan kaya harta. Mengapa bisa begitu? Bukankah secara matematika jika kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk membantu orang lain, maka waktu dan tenaga kita habis terbuang? Atau jika harta kita diberikan kepada orang yang membutuhkan, berarti harta kita berkurang? Secara nyata memang berkurang, tetapi ingat, ada malaikat yang mencatat perbuatan baik kita. Malaikat tsb. melaporkannya kepada Allah. Maka Allah memberi tambahan kepada kita, baik itu harta, ilmu, waktu dan tenaga yang lebih banyak lagi. Ngga percaya? Buktikan sendiri. Banyaklah memberi dengan syarat ikhlas, maka kita akan banyak menerima bahkan berlipat dari pemberian kita semula.


Read More......